

Perjalanan haji dari Indonesia ke Tanah Suci berlangsung dalam beberapa tahap: dari daerah asal ke asrama haji dan bandara embarkasi, penerbangan menuju Madinah atau Jeddah, perjalanan ke Makkah, puncak ibadah di Arafah, Muzdalifah, dan Mina, lalu kembali ke Indonesia melalui bandara debarkasi. Memahami alur ini membantu jemaah menyiapkan fisik, dokumen, perlengkapan, dan manasik sesuai tahapan perjalanan.
Pada penyelenggaraan Haji 1447 H/2026 M, rencana resmi pemerintah membagi keberangkatan dalam dua gelombang. Gelombang I diberangkatkan dari Indonesia menuju Madinah, sedangkan Gelombang II menuju Jeddah. Pengaturan dapat berubah pada musim berikutnya, sehingga jadwal resmi penyelenggara tetap menjadi acuan utama.
Sebelum terbang, jemaah menyelesaikan persiapan administrasi, kesehatan, dan manasik. Setelah itu, jemaah berangkat sesuai kelompok terbang atau kloter menuju asrama haji embarkasi. Di sana dilakukan proses akhir sebelum keberangkatan, termasuk pengarahan, pemeriksaan dokumen, dan penyesuaian jadwal penerbangan.
Untuk Haji 2026, rencana perjalanan pemerintah menetapkan jemaah mulai masuk asrama pada 21 April 2026 dan pemberangkatan pertama ke Arab Saudi pada 22 April 2026. Jemaah juga dapat mempelajari cara cek keberangkatan haji untuk mengetahui estimasi tahun keberangkatan berdasarkan nomor porsi.
Jemaah kemudian menuju bandara embarkasi untuk proses keberangkatan internasional. Tahap ini mencakup penanganan bagasi, pemeriksaan keamanan, proses keimigrasian, dan boarding sesuai alur yang ditetapkan petugas.
Empat bandara InJourney Airports pada musim Haji 2026 menyediakan layanan Mecca Route, yaitu Soekarno-Hatta, Juanda, Adi Soemarmo, dan Sultan Hasanuddin. Layanan ini memungkinkan proses keimigrasian Arab Saudi dilakukan sejak di Indonesia sehingga alur kedatangan jemaah di Arab Saudi menjadi lebih sederhana.
Rute tidak selalu sama untuk setiap kloter. Pada Gelombang I 2026, jemaah tiba di Madinah terlebih dahulu sebelum melanjutkan perjalanan ke Makkah. Gelombang II terbang menuju Jeddah dan kemudian bergerak ke Makkah.
Selama perjalanan menuju Makkah, jemaah perlu memperhatikan ketentuan miqat dan ihram sesuai rute serta jenis haji yang dijalankan. Karena detail pelaksanaan dapat berbeda, arahan pembimbing ibadah dan petugas haji perlu diikuti.
Setelah berada di Makkah dan menjalani rangkaian manasik sesuai jenis hajinya, jemaah memasuki fase Armuzna, yaitu Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Pada rencana Haji 2026, pergerakan dari Makkah ke Arafah dijadwalkan 25 Mei dan wukuf pada 26 Mei 2026.
Wukuf di Arafah merupakan rukun haji. Setelah itu, jemaah melanjutkan rangkaian menuju Muzdalifah dan Mina sesuai skema yang ditetapkan, termasuk mabit dan melontar jamrah. Pemerintah juga dapat menerapkan pengaturan khusus untuk kelompok tertentu guna mengurangi kepadatan dan menjaga keselamatan jemaah.
Sesudah fase Armuzna, jemaah kembali ke Makkah untuk menyelesaikan manasik, termasuk tawaf ifadah dan sa’i sesuai ketentuan masing-masing.
Setelah seluruh rangkaian selesai, jemaah mengikuti jadwal kepulangan kloter. Mereka bergerak menuju bandara di Arab Saudi, terbang ke bandara debarkasi di Indonesia, kemudian mengikuti proses kedatangan dan perjalanan kembali ke daerah asal.
Di Indonesia, proses kedatangan dapat mencakup pemeriksaan imigrasi, penanganan bagasi, kepabeanan, serta pengaturan transportasi menuju asrama haji atau titik pemulangan. Jemaah sebaiknya tetap mengikuti arahan petugas karena mekanisme setiap debarkasi dapat berbeda. Untuk melengkapi persiapan kepulangan, simak pilihan oleh-oleh haji dan umroh beserta tips belanjanya.
Pada musim Haji 2026, InJourney Airports menyiapkan 19 bandara untuk mendukung keberangkatan 205.333 calon jemaah. Sebanyak 14 bandara berfungsi sebagai embarkasi langsung ke Arab Saudi dan lima lainnya sebagai embarkasi antara. Infrastruktur yang disiapkan mencakup terminal, area check-in dan boarding, fasilitas keamanan, serta runway, taxiway, dan apron untuk mendukung pesawat berbadan lebar.
Untuk fase kepulangan 1 Juni-1 Juli 2026, InJourney Airports menyiapkan 14 bandara dengan layanan bagi lebih dari 200 ribu jemaah. Dukungan tersebut termasuk fasilitas kesehatan, asistensi lansia dan penyandang disabilitas, kursi roda, serta koordinasi dengan PPIH, maskapai, AirNav Indonesia, Karantina, Imigrasi, dan Bea Cukai.
Memahami perjalanan haji dari berangkat sampai pulang bukan hanya membantu jemaah mengetahui rute, tetapi juga kapan harus menyiapkan dokumen, menjaga stamina, mengikuti arahan kloter, dan menyesuaikan diri dengan perpindahan antarlokasi. Untuk musim haji berikutnya, jadwal dan prosedur terbaru tetap perlu diperiksa melalui kanal resmi Kementerian Haji dan Umrah serta penyelenggara keberangkatan.