

Sarinah bukan hanya tempat belanja, tetapi juga salah satu tujuan kuliner di pusat Jakarta karena banyak sekali pilihan makanan di Sarinah yang bisa dicicipi, utamanya yang berlokasi di Gedung Sarinah.
Pertama kali digagas oleh Presiden Soekarno, Gedung Sarinah diresmikan pada 15 Agustus 1966 sebagai pusat perbelanjaan pertama di Indonesia. Setelah revitalisasi rampung pada 2022 dan diresmikan kembali oleh Presiden Joko Widodo, Sarinah mulai memadukan ritel, galeri budaya, dan wisata kuliner Thamrin dalam satu gedung di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, tidak jauh dari Bundaran Hotel Indonesia.
Bagi pekerja kantoran, keluarga, maupun wisatawan yang sedang berada di kawasan Thamrin, mencicipi makanan di Sarinah adalah hal yang wajib karena tersedia banyak pilihan menu dan mudah dijangkau untuk makan atau sekadar beristirahat sejenak.
Sarinah berada persis di kawasan Thamrin, jalur yang setiap hari dilalui pekerja kantoran, wisatawan, dan warga sekitar. Tempat makan di Sarinah dapat dicapai dengan TransJakarta maupun MRT Bundaran HI, dilanjutkan dengan berjalan kaki beberapa menit dari stasiun. Bagi yang membawa kendaraan pribadi, area parkir Sarinah dapat diakses lewat pintu selatan gedung.
Kuliner di Sarinah menggabungkan resep Nusantara yang sudah dikenal lama dengan restoran bergaya modern, mulai dari ramen di Ramen 38 Sanpachi, sushi di Sushi Hiro, sampai suki dan BBQ ala Thailand di Raa Cha. Pengunjung bisa memilih masakan rumahan atau tempat dengan konsep yang lebih kekinian, tergantung selera dan bujet, dengan harga mulai Rp30.000 per porsi tergantung tenan.
Suasana yang nyaman dan pilihan harga yang beragam membuat berbagai restoran di Sarinah Thamrin cocok untuk makan siang karyawan, kumpul keluarga di akhir pekan, maupun kunjungan wisatawan yang ingin mencoba rasa asli kuliner Indonesia.
Di lantai basemen terdapat food court Sarinah bernama Pasar Nusantara. Beberapa tenan sudah berdiri cukup lama, seperti Soto Betawi sejak era 1960-an, Sate Padang Ajo Ramon, Lontong Balap Bioskop Ria Surabaya, dan Nasi Goreng Kambing Kebon Sirih yang kini dikelola oleh generasi ketiga.
Di luar food court ada Dapur Solo, Sari Ratu, dan Bali Timbungan, masing-masing membawa resep dari Jawa Tengah, Sumatra Barat, dan Bali. Bali Timbungan sendiri sudah mengantongi sertifikasi halal untuk menu seperti Bebek Timbungan dan Ayam Betutu ala Gilimanuk.
Bagi penikmat kopi, ada banyak pilihan kedai kopi yang bisa dicicipi mulai dari Kopi Es Tak Kie yang sudah berjualan sejak 1927, sampai kedai yang lebih baru seperti Titik Temu Coffee dan Filosofi Kopi. Pilihan dessert dan kafe kekinian juga tersedia bagi yang ingin bersantai lebih lama sambil melihat suasana kawasan Thamrin dari dalam gedung.
Selain menu tradisional, tersedia juga pilihan yang lebih praktis seperti Ayam Goreng Suharti dan Bakmi GM, cocok untuk pengunjung yang ingin makan cepat tanpa antre lama. Sebagian besar tenant ini buka mulai pukul 09.00 hingga 21.00 WIB.
Tidak hanya memiliki tenan makanan, Sarinah juga menjual oleh-oleh mulai dari camilan, kopi kemasan, dan produk UMKM binaan yang bisa dijadikan buah tangan atau bingkisan sebelum pengunjung kembali ke daerah atau negara asal.
Sarinah adalah Badan Usaha Milik Negara yang sejak awal dibentuk untuk mewadahi perdagangan produk dalam negeri. Kuliner menjadi salah satu bagian dari fungsi tersebut. Oleh karena itu, kehadiran tenant makanan di Sarinah tidak hanya soal makan, tetapi juga cara memperkenalkan produk kuliner lokal dan UMKM kepada pengunjung yang datang ke kawasan bisnis Thamrin.
Sebagian lantai atas gedung ini juga difungsikan sebagai museum dan galeri seni, sehingga dalam satu kunjungan pengunjung bisa menikmati sisi kuliner sekaligus budaya.
Sarinah juga mendorong tenantnya mengurus sertifikasi halal, mengikuti Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2024 tentang Penyelenggaraan Bidang Jaminan Produk Halal. Menurut BPJPH, kewajiban sertifikasi halal bagi usaha menengah dan besar berlaku sejak 18 Oktober 2024, sementara usaha mikro dan kecil diberi waktu sampai 17 Oktober 2026.
Aturan yang sama juga mengatur sanksi bagi pelaku usaha yang belum memenuhi kewajiban ini, mulai dari peringatan tertulis hingga penarikan produk dari peredaran. Informasi ini berguna bagi pengunjung yang ingin memastikan adanya status halal sebelum menikmati kuliner di Sarinah.
Kawasan Thamrin biasanya ramai pada jam makan siang, sekitar pukul 12.00 hingga 13.00 WIB. Untuk menikmati tempat makan di Sarinah tanpa perlu mengantre lama, disarankan datang pada pagi menjelang siang atau sore hari.
Sarinah kerap mengadakan acara kuliner dan pasar rakyat, termasuk Pasar Nusantara, yang menampilkan produk musiman dan kolaborasi dengan UMKM dari berbagai daerah. Jadwal acara bisa dicek lebih dulu melalui kanal resmi Sarinah agar kunjungan tidak bentrok dengan hari libur acara tersebut.
Setelah mencicipi makanan di Sarinah, pengunjung biasanya melanjutkan ke lantai lain untuk melihat produk kerajinan, fesyen, atau oleh-oleh khas Indonesia. Dengan begitu, satu kunjungan bisa mencakup dua kegiatan sekaligus: makan dan berbelanja.
Dari soto yang sudah berjualan sejak sebelum kemerdekaan sampai kafe yang baru buka tahun ini, semuanya ada dalam satu gedung yang sama. Bagi yang sedang berada di kawasan Thamrin dan belum menentukan pilihan, wisata kuliner Thamrin di Sarinah bisa jadi salah satu jawabannya, baik untuk makan cepat di sela pekerjaan maupun duduk lebih lama bersama keluarga.
Baca Juga: Wisata Terbaik di Indonesia 2026: Destinasi yang Wajib Masuk Bucket List.
Food court Sarinah yang utama yaitu Pasar Nusantara berada di lantai basement. Restoran dan kafe lain tersebar mulai dari lantai dasar hingga lantai atas gedung.
Beberapa yang paling dikenal antara lain Soto Betawi, Lontong Balap Bioskop Ria Surabaya, Nasi Goreng Kambing Kebon Sirih, dan Kopi Es Tak Kie yang sudah berjualan sejak 1927.
Di Sarinah ada banyak sekali makanan yang wajib dicicipi terutama kuliner Nusantara mulai dari Soto Betawi sejak era 1960-an, Sate Padang Ajo Ramon, Lontong Balap Bioskop Ria Surabaya, Nasi Goreng Kambing Kebon Sirih, Dapur Solo, Sari Ratu, dan Bali Timbungan