

Manajemen risiko bisnis adalah proses mengenali, menilai, mengendalikan, dan memantau risiko yang dapat memengaruhi pencapaian tujuan perusahaan. Pendekatan ini membantu organisasi mengidentifikasi, menganalisis, mengevaluasi, menangani, dan memonitor risiko secara sistematis.
Dalam bisnis pariwisata, risiko dapat muncul dari keselamatan, gangguan operasional, cuaca ekstrem, reputasi, teknologi, hingga perubahan permintaan wisatawan. Karena itu, mitigasi perlu mencakup pencegahan, kesiapsiagaan, respons, dan pemulihan layanan.
Manajemen risiko bertujuan membantu organisasi mengambil keputusan secara lebih terukur sekaligus meningkatkan kesiapan menghadapi ketidakpastian yang dapat memengaruhi sasaran bisnis.
Risiko merupakan dampak ketidakpastian terhadap tujuan. Masalah sudah terjadi dan membutuhkan penyelesaian, sedangkan krisis merupakan kondisi serius yang membutuhkan respons cepat. Ketidakpastian mengacu pada keterbatasan informasi mengenai suatu kondisi atau kejadian.
Perjalanan wisata melibatkan banyak layanan, mulai dari transportasi dan hotel hingga destinasi dan aktivitas. Gangguan pada satu bagian dapat memengaruhi pengalaman pelanggan sehingga koordinasi lintas fungsi menjadi penting.
Berikut beberapa jenis risiko dalam industri pariwisata yang wajib dipahami:
1.Risiko Keselamatan, Keamanan, dan Kesehatan
Meliputi kecelakaan, gangguan keamanan, keadaan darurat, hingga kondisi yang dapat membahayakan wisatawan maupun petugas.
2.Risiko Operasional
Contohnya keterlambatan layanan, kerusakan fasilitas, keterbatasan kapasitas, gangguan transportasi, atau kegagalan proses operasional.
3.Risiko Cuaca Ekstrem dan Bencana
Hujan ekstrem, banjir, gempa bumi, erupsi, dan perubahan kondisi iklim dapat memengaruhi akses serta operasional destinasi.
4.Risiko Finansial
Mencakup masalah likuiditas, kenaikan biaya operasional, perubahan pendapatan, dan fluktuasi permintaan wisatawan.
5.Risiko Reputasi dan Kualitas Layanan
Keluhan pelanggan, pengalaman layanan yang buruk, atau informasi negatif yang menyebar dapat memengaruhi persepsi terhadap suatu bisnis atau destinasi.
6.Risiko Teknologi dan Keamanan Siber
Semakin digitalnya layanan perjalanan membuat perlindungan sistem, privasi data pelanggan, serta keamanan transaksi semakin penting.
7.Risiko Kepatuhan
Pelaku usaha juga perlu memperhatikan regulasi, perizinan, keselamatan, perlindungan konsumen, serta standar layanan yang berlaku.
Tahapan manajemen risiko dapat dilakukan dengan:
Pendekatan tersebut sejalan dengan prinsip ISO 31000 yang menempatkan identifikasi, analisis, evaluasi, penanganan, pemantauan, dan komunikasi sebagai bagian penting pengelolaan risiko.
Mitigasi dapat dilakukan melalui beberapa langkah berikut:
InJourney menghubungkan berbagai lini dalam ekosistem aviasi dan pariwisata, termasuk bandara, layanan penerbangan, pengembangan pariwisata, destinasi, hospitality, dan ritel.
Keterhubungan antar lini tersebut mendukung pengelolaan risiko secara lebih terintegrasi di sepanjang perjalanan wisatawan, sehingga membantu meningkatkan ketahanan operasional serta menjaga konsistensi layanan. InJourney juga memiliki fungsi Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko, sementara pengembangan kompetensi di InJourney Talent School mencakup Finance, Assurance, Governance, Risk, Compliance, dan Data Management.
Langkah awal adalah menetapkan tujuan dan konteks, kemudian mengidentifikasi risiko yang dapat memengaruhi pencapaiannya.
Contohnya keterlambatan transportasi, kerusakan fasilitas, gangguan sistem reservasi, dan keterbatasan kapasitas.
Manajemen risiko membutuhkan keterlibatan manajemen dan setiap fungsi yang memiliki atau mengelola risiko dalam aktivitasnya.
Business continuity plan membantu perusahaan mempertahankan atau memulihkan layanan penting ketika terjadi gangguan besar.