

Bangunan bersejarah di Indonesia merupakan jejak penting perjalanan bangsa yang merekam perkembangan arsitektur, sosial, politik, keagamaan, dan budaya dari berbagai masa. Keberadaan bangunan-bangunan ini tidak hanya menjadi objek wisata, tetapi juga sumber pembelajaran mengenai identitas dan memori kolektif Indonesia.
Banyak bangunan bersejarah telah ditetapkan sebagai cagar budaya karena memiliki nilai penting bagi sejarah dan kebudayaan. Pelindungannya diatur melalui Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya agar dapat diwariskan kepada generasi mendatang.
Berikut daftar bangunan bersejarah di Indonesia yang perlu diketahui:
Lawang Sewu merupakan salah satu ikon wisata sejarah Semarang. Bangunan utamanya mulai dibangun pada 27 Februari 1904 dan selesai pada Juli 1907 sebagai kantor pusat Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NISM), perusahaan kereta api swasta pada masa Hindia Belanda.
Bangunan ini dikenal dengan deretan pintu dan jendela yang sangat banyak, lorong panjang, langit-langit tinggi, serta rancangan yang menyesuaikan kondisi iklim tropis. Lawang Sewu juga menjadi salah satu saksi Pertempuran Lima Hari di Semarang pada 1945.
Pengunjung kini dapat menjelajahi kompleks bangunan, menikmati detail arsitekturnya, serta mempelajari sejarah perkeretaapian Indonesia. Bagi wisatawan dari luar kota, Semarang dapat dijangkau melalui Bandara Jenderal Ahmad Yani, salah satu bandara yang dikelola InJourney Airports.
Gedung Sate merupakan landmark bersejarah Bandung sekaligus salah satu contoh penting perkembangan arsitektur pada masa Hindia Belanda. Pembangunannya dimulai pada 27 Juli 1920 dan selesai pada 1924.
Bangunan ini memiliki perpaduan pengaruh arsitektur Barat dan lokal. Salah satu elemen paling terkenal adalah ornamen pada bagian puncaknya yang menyerupai tusuk sate dan kemudian melahirkan nama populer “Gedung Sate”.
Kini, Gedung Sate menjadi pusat pemerintahan Provinsi Jawa Barat. Wisatawan juga dapat mengunjungi Museum Gedung Sate untuk mengetahui lebih jauh sejarah, arsitektur, dan pembangunan gedung tersebut.
Dalam ekosistem InJourney Airports, Jawa Barat terhubung antara lain melalui Bandara Kertajati serta Bandara Husein Sastranegara yang masuk ke dalam jaringan bandara InJourney.
Berada di kawasan Kota Tua, Museum Fatahillah atau Museum Sejarah Jakarta menempati bekas Balai Kota Batavia. Pembangunan gedung berlangsung pada 1707–1710 dan bangunan tersebut diresmikan pada 10 Juli 1710.
Arsitekturnya memperlihatkan karakter bangunan pemerintahan kolonial dengan fasad simetris, jendela-jendela besar, dan pembagian ruang yang monumental.
Saat berkunjung, wisatawan dapat melihat koleksi yang menggambarkan perjalanan Jakarta mulai dari masa prasejarah, Jayakarta, Batavia, hingga periode berikutnya.
Untuk wisatawan yang datang melalui jalur udara, Jakarta terhubung dengan Bandara Soekarno-Hatta dan Bandara Halim Perdanakusuma, yang termasuk dalam jaringan InJourney Airports.
Gedung Merdeka memiliki posisi penting dalam sejarah diplomasi Indonesia. Bangunan inilah yang menjadi salah satu pusat penyelenggaraan Konferensi Asia-Afrika pada April 1955.
Sebelum konferensi berlangsung, gedung yang sebelumnya dikenal sebagai Gedung Concordia tersebut direnovasi dan secara resmi diberi nama Gedung Merdeka oleh Presiden Soekarno pada 7 April 1955.
Kini, kawasan tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan wisata sejarah Bandung. Wisatawan dapat mengunjungi Museum Konferensi Asia-Afrika untuk melihat dokumentasi, benda bersejarah, dan berbagai informasi mengenai lahirnya semangat solidaritas negara-negara Asia dan Afrika.
Istana Maimun merupakan peninggalan Kesultanan Deli sekaligus salah satu landmark terkenal di Medan. Pembangunannya berlangsung pada 1888–1891 atas perintah Sultan Ma’mun Al Rasyid.
Keunikan istana terdapat pada kombinasi unsur arsitektur Melayu, Islam, India, dan Eropa. Interiornya dihiasi warna-warna khas kerajaan serta berbagai benda peninggalan Kesultanan Deli.
Wisatawan dapat menjelajahi bagian istana yang terbuka bagi pengunjung sekaligus mempelajari perkembangan Kesultanan Deli dan Kota Medan.
Perjalanan menuju Medan dapat dilakukan melalui Bandara Internasional Kualanamu yang berada dalam jaringan InJourney Airports. Untuk akomodasi, ekosistem InJourney Hospitality juga memiliki Grand Inna Medan di pusat Kota Medan.
Keraton Yogyakarta merupakan pusat sejarah sekaligus kebudayaan Jawa yang masih menjalankan berbagai fungsi tradisi hingga sekarang. Keberadaannya berkaitan erat dengan Perjanjian Giyanti pada 13 Februari 1755, sementara pembangunan keraton dimulai pada tahun yang sama.
Kompleks keraton memiliki tata ruang yang sarat filosofi, mulai dari pendopo, pelataran, hingga berbagai bangunan yang menjadi bagian dari kehidupan Kesultanan Yogyakarta.
Pengunjung dapat mempelajari sejarah Kesultanan, melihat koleksi keraton, serta menyaksikan berbagai kegiatan budaya sesuai jadwal yang berlaku.
Untuk menuju Yogyakarta, wisatawan dapat memanfaatkan Yogyakarta International Airport (YIA) yang dikelola InJourney Airports. Perjalanan sejarah juga dapat dilanjutkan menuju Candi Prambanan dan Ratu Boko. Keduanya merupakan destinasi warisan budaya dalam portofolio InJourney Destination.
Keraton Surakarta Hadiningrat menjadi salah satu pusat penting kebudayaan Jawa di Kota Solo. Pembangunannya dimulai pada masa Pakubuwono II sebagai pengganti Keraton Kartasura setelah kerusakan akibat Geger Pecinan, dan keraton mulai ditempati pada 1745.
Kompleksnya memiliki arsitektur tradisional Jawa dengan berbagai ruang, pelataran, serta koleksi benda pusaka dan peninggalan Kasunanan.
Wisatawan dapat mengunjungi museum keraton serta mempelajari tradisi dan sejarah Kasunanan Surakarta. Untuk akses udara, Bandara Adi Soemarmo di Surakarta termasuk salah satu bandara dalam jaringan InJourney Airports.
Berada tidak jauh dari kawasan Malioboro, Benteng Vredeburg merupakan benteng peninggalan kolonial yang sekarang berfungsi sebagai museum perjuangan nasional.
Perkembangan benteng berlangsung sejak abad ke-18 dan bangunannya disempurnakan sekitar 1765–1788 sebelum kemudian dikenal sebagai Benteng Vredeburg.
Kini, Museum Benteng Vredeburg menyajikan sejarah perjuangan Indonesia melalui koleksi, diorama, dan berbagai program edukasi. Lokasinya yang strategis membuat tempat ini mudah dikombinasikan dengan wisata Keraton Yogyakarta dan kawasan Malioboro.
Bila ingin memperluas perjalanan bertema heritage di sekitar Yogyakarta, wisatawan juga dapat memasukkan Candi Prambanan dan Ratu Boko yang dikelola InJourney Destination ke dalam itinerary.
Benteng Rotterdam merupakan salah satu bangunan bersejarah paling terkenal di Makassar. Benteng ini memiliki akar sejarah dari Kerajaan Gowa-Tallo dan dahulu dikenal sebagai Benteng Ujung Pandang.
Setelah Perjanjian Bungaya pada 1667, benteng diserahkan kepada VOC dan kemudian ditata kembali serta dikenal sebagai Fort Rotterdam.
Di kompleks benteng terdapat Museum La Galigo yang menyimpan berbagai koleksi mengenai sejarah dan kebudayaan Sulawesi Selatan. Benteng ini juga memiliki hubungan dengan Pangeran Diponegoro, yang pernah menjalani masa pengasingan di Makassar.
Wisatawan dari luar Sulawesi dapat memasuki Makassar melalui Bandara Sultan Hasanuddin, salah satu bandara yang dikelola dalam jaringan InJourney Airports.
Tugu Pahlawan merupakan landmark yang dibangun untuk mengenang perjuangan rakyat Surabaya dalam Pertempuran 10 November 1945.
Pembangunan monumen dimulai pada 1952 dan Tugu Pahlawan diresmikan Presiden Soekarno pada 10 November 1952. Tingginya sekitar 41,15 meter dengan bentuk menyerupai paku terbalik.
Di bawah kawasan monumen terdapat Museum Sepuluh Nopember yang menghadirkan koleksi, diorama, foto, dan artefak berkaitan dengan perjuangan rakyat Surabaya.
Untuk menuju Surabaya dari berbagai kota di Indonesia, wisatawan dapat melalui Bandara Internasional Juanda, salah satu bandara dalam jaringan InJourney Airports.
Hotel Majapahit bukan sekadar hotel berarsitektur klasik, tetapi juga lokasi salah satu peristiwa penting menjelang Pertempuran Surabaya.
Bangunan hotel berasal dari 1910 dan pernah dikenal sebagai Hotel Yamato. Pada 19 September 1945, para pemuda Surabaya merobek bagian biru dari bendera Belanda yang berkibar di hotel sehingga menyisakan warna merah dan putih.
Peristiwa tersebut menjadikan bangunan ini salah satu simbol perjuangan kemerdekaan di Surabaya. Wisatawan dapat menikmati arsitektur kolonial dan atmosfer historis kawasan Jalan Tunjungan.
Untuk melengkapi perjalanan di Surabaya, ekosistem InJourney Hospitality juga mencantumkan Grand Inna Tunjungan dalam jaringan hotelnya, sementara akses udara kota dilayani melalui Bandara Juanda yang masuk ke dalam jaringan InJourney Airports.
Fort Belgica di Banda Neira menjadi saksi penting sejarah perdagangan rempah-rempah dunia, khususnya pala yang pernah menjadikan Kepulauan Banda pusat perebutan kepentingan perdagangan global.
Benteng ini berasal dari periode VOC pada abad ke-17 dan dibangun dalam konteks penguasaan serta monopoli perdagangan pala di Banda.
Struktur benteng yang monumental dan posisinya yang tinggi menawarkan panorama Banda Neira, laut, dan lanskap vulkanik di sekitarnya. Pengunjung dapat menjelajahi bagian-bagian benteng sekaligus memahami hubungan Kepulauan Banda dengan sejarah perdagangan rempah dunia.
Untuk perjalanan menuju Maluku, salah satu pintu masuk udara utama adalah Bandara Pattimura di Ambon, yang berada dalam jaringan InJourney Airports. Perjalanan menuju Banda Neira kemudian perlu dilanjutkan menggunakan moda transportasi antarpulau yang tersedia.
Mengunjungi bangunan bersejarah tidak hanya berarti melihat peninggalan masa lalu. Perjalanan tersebut dapat menjadi cara untuk memahami hubungan antara budaya, perjuangan, perdagangan, pemerintahan, dan perkembangan kota-kota di Indonesia.
Untuk mendukung perjalanan ke berbagai kota tersebut, InJourney membangun ekosistem aviasi dan pariwisata yang mencakup bandara, hospitality, destination management, aviation services, tourism development, hingga retail.
Melalui InJourney Airports, wisatawan dapat terhubung ke berbagai gerbang perjalanan seperti Soekarno-Hatta, Kualanamu, Ahmad Yani Semarang, Yogyakarta International Airport, Adi Soemarmo, Juanda, Sultan Hasanuddin, hingga Pattimura.
Sementara itu, wisata sejarah di Jawa Tengah dan Yogyakarta dapat diperluas dengan mengunjungi kawasan Candi Borobudur, Candi Prambanan, dan Ratu Boko, yang menjadi bagian dari destinasi warisan budaya yang dikelola InJourney Destination. Pengelolaannya berlandaskan empat pilar utama, yaitu heritage, culture, amenities, dan attraction.
Dengan mengombinasikan bangunan bersejarah, destinasi budaya, konektivitas udara, dan pilihan akomodasi, perjalanan menjelajahi sejarah Indonesia dapat menjadi pengalaman wisata yang lebih lengkap sekaligus memperkenalkan kekayaan warisan budaya dari satu daerah ke daerah lainnya.
Contohnya Lawang Sewu, Gedung Sate, Museum Fatahillah, Istana Maimun, dan Benteng Rotterdam.
Bangunan bersejarah memiliki nilai sejarah, sedangkan cagar budaya adalah status hukum yang diberikan pemerintah kepada objek yang memenuhi kriteria pelestarian.
Tidak. Sebagian bangunan masih berfungsi sebagai kantor pemerintahan, istana, atau kawasan dengan akses terbatas.
Dengan mematuhi aturan kunjungan, tidak merusak bangunan, menggunakan jasa pemandu resmi, dan mendukung program pelestarian.